DKPP Sukamara Pengambilan Sampel Darah Sapi

    Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian melalui Kepala Bidang Peternakan Syamsir Hidayat, S.Pi., M.Si disela-sela aktifitasnya mengatakan “Pengambilan sampel darah sapi bertujuan untuk mengetahui tingkat kadar suatu zat yang terkandung dalam darah ternak”, dalam hal ini untuk memeriksa penyakit Brucellosis, parasit darah dan parasit cacing pada sapi.

    Pemeriksaan darah sapi ini dilaksanakan kerjasama antara Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Sukamara dalam rangka untuk mencegah adanya Brucellosis (keguguran menular), adalah penyakit keguguran menular pada hewan yang disebabkan oleh bakteri Brucellaabortus yang menyerang sapi, domba, kambing, babi dan hewan atau ternak lainnya, dimana gejalanya tidak menyolok, biasa dan tidak menimbulkan perubahan klinis.  Pada sapi jantan scrotum bengkak, nafsu makan turun dan demam, sedangkan pada sapi betina biasanya menyebabkan terjadinya keguguran saat bunting (anaknya mati dan berwarna biru kecoklatan, jika hidup pun sangat lemah tak berkembang), dimana ambing dan alat kelamin terkadang bengkak.

    Adapun penularan (penyebarannya) melalui kontak langsung, yakni pada saat terjadinya perkawinan dengan pejantan yang tampak sehat tetapi membawa penyakit, melalui pakan dan air minum yang ditulari oleh janin yang digugurkan serta melalui luka. Dimana penyakit ini bersifat zoonosis artinya dapat menular dari hewan ke manusia tambahnya.

    Pada kesempatan tersebut  juga dilakukan pemeriksaan parasit darah yang merupakan masalah kesehatan karena dapat menimbulkan kerugian ekonomi, pertumbuhan terhambat, berat badan, daya kerja dan reproduksi terjadi penurunan. Dimana jika tidak segera diobati dapat menyebabkan kematian terutama pada ternak muda. Perlu dilakukan pemeriksaan dilaboratorium dan hasilnya nanti sangat berguna bagi peternak dan masyarakat untuk dilakukan pencegahan, pengobatan dan pemberantasannya.

    Adapun parasit cacing dapat menyebabkan  penyakit cacingan (Helminthiasis) bagi ternak. Dimana dampaknya berupa penurunan pertumbuhan, perkembangan, produktivitas hingga mengakibatkan kematian. Parasit ini dapat menular kemanusia dan dapat diidentifikasi dengan melakukan uji sampel feses.

    Upaya pencegahan (pengobatan) yaitu dengan melakukan sanitasi/kebersihan kandang dan segala peralatan secara teratur (obat pencuci hama), dipisah dengan yang lain, divaksinasi sebelum sapi dikawinkan dan selalu waspada terhadap bibit yang baru dibeli.

    Lebih lanjut Syamsir menjelaskan bahwa dari28 ekor sapi (Desa Natai Sedawak 15 ekor dan Kelurahan Mendawai sebanyak  13 ekor, telah diambil sampel darah sebanyak 25 sampel, ulas darah 9 sampel dan feses sebanyak 17 sampel. (sya)

    Share this Post :

    No comments yet.

    Leave a Reply

    error: Content is protected !!